Uncategorized

Media Digital Terus Berkembang dan Kita Dituntut untuk Bisa Banyak Hal

Lima hari berlalu dan masi belum bisa move on dari #JamboreMojok. Tulisan ini adalah bagian dari tanggungjawab setelah mengeluarkan uang dan tiket untuk pergi ke Jogja. Tentu, sekaligus untuk memelihara ingatan.

Di #JamboreMojok saya bertemu orang-orang yang luar biasa. Bukan hanya pembicara, namun sebagian besar peserta adalah orang-orang yang concern di media dan dunia literasi. Ada yang sudah memiliki kampung baca, mengelola perpustakaan di daerah terpencil, ada pula yang sudah membangun media digital di kampung halaman.

Mereka datang jauh dari Manado, Lampung, Ternate, Kalimantan, dan banyak kota lainnya yang tak bisa semua saya ingat. Saya merasa beruntung dan bertukar ide serta pengalaman bersama mereka. Selalu m mbatin berkali-kali, “Saya mah apa”.

Sesi terakhir yang begitu berkesan adalah pembicaraan seputar perkembangan media digital. Tim #JamboreMojok menghadirkan tiga pembicara yang begitu asique. Ialah Atmaji Sapto Anggoro Pemimpin Redaksio Tirto.ID, Nezar Patria Digital Editor in Chief The Jakarta Post, dan tentu saja Puthut EA Kepala Suku Mojok.co.

Saya gugup bagaimana menuliskan alur tulisan ini. Namun akan saya mulai dengan menuliskan poin-poin penting yang saya tanggap dari ketiga pembicara.

Atmaji Sapto Anggoro, salah satu pendiri portal detik.com, pendiri merdeka.com, CEO Tirto.ID. Sapto memahami, teknologi berkembang luar biasa dan media digital tentu ikut andil dalam perubahan atas perkembangan itu. Ada dua kelompok media di era digital. Kelompok market oriented yang menghendaki sebanyak-banyaknya pembaca, dan media idealis yang tidak menyasar pembaca dalam skala besar namun memiliki pembaca yang loyal.

Pasca pemilihan presiden tahun 2014, pusaran pemberitaan di berbagai media begitu riuh. Tirto kemudian dibentuk pada 2016 lalu. Masih sangat baru. Namun, saat ini Tirto menjadi media baru berbasis data yang tidak hanya butuh kecepatan, namun juga kedalaman konteks.

“Membuat sesuatu yang baru adalah bagian dari upaya untuk membentuk peradaban baru. Dan Tirto inginkan hal itu”. Sapto Anggoro dalam #JamboreMojok.

Tirto memiliki penulis-penulis yang memiliki posisi tawar tinggi. Bisnis media adalah kerja otak, bukan otot. Kerja otak menawarkan posisi tawar. Wishnutama, misalnya. Dia hengkang dari Trans Corp, membangun NET TV dengan jargon revolusi media, dan diikuti lebih dari 200 karyawan Trans Corp lainnya.

“Jika konten yang anda tulis memberikan insight, bukan hanya manfaat, kalau anda keluar dari media akan banyak yang menarik anda kembali,” kata Sapto.

Berdasarkan data, dalam lima tahun terakhir semua tren media menurun, kecuali media digital. Dengan cepat, kini anak-anak lebih memilih untuk melihat audiovisual daripada membaca panduan yang bersifat textbook. Bisa dibuktikan. Youtube dengan konten ecek-ecekan saja memiliki viewer ribuan hingga ratusan ribu.

“Video akan jadi masa depan media digital,” ucap Nezar Patria sebagai narasumber kedua.

Ekologi media baru mengubah segalanya. Sayangnya, semakin tinggi teknologi tidak diikuti critical thinking. Padahal, Nezar menambahkan, critical thinking adalah ilmu tertinggi sebagai panduan hidup di era digital.

Konten-konten hoax banyak bertebaran saat ini, bukan hanya berbentuk tulisan dan gambar. Seperti yang Nezar katakan, masyarakat kini sedang menghadapi dunia baru. “Kita nyaris termakan kondisi yang kita buat sendiri,” ucapnya.

Melalui diskusi itu saya mendapati, sudah ada (kalau tidak bisa disebut marak) penyebaran berita bohong melalui media video. Melalui kecanggihan teknologi, bahkan mimik muka dan gerak bibir bisa diedit dan diganti suara persis seperti suara yang diinginkan. Bagaimana jika konten-konten semacam ini sengaja diproduksi untuk menyebarkan kebohongan? Mengerikan, bukan.

Seperti yang diutarakan Nezar, tulisan jenaka kadang berfungsi untuk seseorang bercermin sambil menertawai diri sendiri. Seperti tulisan-tulisan di Mojok, misalnya.

Mas Puthut mengatakan, tidak semua media online menyasar banyak sekali pembaca. Beberapa memilih menjadi media yang idealis, memilih pembaca yang loyal, yang turut mendukung agar perbaruan konten terus dilakukan. Yhaaa, tentunya seperti pembaca-pembaca Mojok. Ehehehe

Ada yang saya sukai dari idealisme Mas Puthut tentang Mojok. Penulis Mojok tidak datang di sebuah acara, menuliskannya, dan selesai. Tetapi dia (baca: penulis) melihat fenomena tertentu, mengasah kratifitas, menelurkan ide, dan menuliskannya sesuai aliran Mojok. Mendengar menjelasan ini atiku adem, Mz.

Terakhir, selamat ulang tahun, Mojok.

 

Foto oleh: Sriwulan Wahyu Pertiwi

Advertisements
Tips

Tips bagi Pemula yang Akan Nonton Konser Musik Folk

Bagi sebagian besar orang, nonton konser musik adalah sebuah kemewahan. Selain sebagai ajang hiburan, menonton koser musik dapat menmghilangkan kepenatan, baik terhadap rutinitas sehari-hari, maupun urusan kerjaan.

Seperti yang pernah Danilla katakan dalam konsernya di Folk Music Festival di Batu pada Juli lalu, ia menghibur siapa saja yang sedang jenuh dengan segala rutinitas, aktivias di kantor, juga yang sedang mangkel dengan bos atau pimpinan. Perempuan yang lebih senang disebut sebagai pengantar pesan dari pada penyanyi ataupun musisi itu, meminta siapa saja yang datang untuk bahagia. Bahagia sebagai manusia.

Namun ada juga, menonton konser musik demi melihat sang idola melantunkan komposisi musiknya. Biasanya, orang-orang ini akan mengikuti kemanapun sang idola menggelar pentas.

Nah, bagi kamu yang lagi gandrung-gaandrungnya dengan musik beraliran folk, jangan sampai kamu tidak melakukan beberapa persiapan, ya. Berikut penulis rangkum tips-tips yang bisa kamu pertimbangkan ketika akan menonton konser musik folk. Biar kamu dapat menikmati konser musik folk yang kebanyakan diselenggarakan di lapangan terbuka.

1. Jangan sampai salah kostum
Ini adalah tips pertama yang wajib kamu perhatikan. Para penonton musik beraliran folk udah paham banget, nih, mereka akan datang dengan pakaian simple, berkesan sporty, dengan pilihan warna mayoritas gelap. Kalau kamu datang dengan pakaian cerah berwarna-warni, siap-siap aja jadi sorotan perhatian penonton yang lain.
Pilihan kostum ini juga biar kamu nggak dikira ‘pemula’ musik folk oleh penonton yang lain. Apalagi, sebagian konser musik folk diadakan di lapangan terbuka. Sehingga, kamu akan bertemu bahkan betegur sapa dengan sesama penonton yang lain.

2. Bawa alas duduk
Karena sebagian besar konser musik folk berlangsung outdor, kamu perlu membawa alas untuk kamu duduk. Bisa tikar maupun matras. Sebab, para penonton konser musik folk tidak berdiri dengan riuh jingkrak-jingkrak para penonton. Mereka menikmati alunan musik sang idola dengan duduk santai.
Bahkan, saking santainya, ada sebagian penonton yang menikmati alunan musik sambil tiduran menatap langit. Tentu, kamu butuh alas, bukan? Apalagi, di lapangan terbuka ada kemungkinan-kemungkinan lapangan yang kotor dan basah. Nah, alas duduk akan mengamankanmu dari itu semua.

3. Ajak teman
Suasana konser musik folk jauh dari riuh renyah penonton yang jingkrak-jingkrak. Meskipun kamu adalah individualis yang ingin menikmati musik dengan dirimu sendiri, ada kalanya kamu ajak teman. Sehingga ada teman yang kamu ajak ngobrol, baik seputar musisi yang tampil, maupun sebagai teman bicara saat jeda pergantian penampilan bintang.

4. Bawa camilan
Tak ada salahnya kamu membawa camilan saat menonton konser musik folk. Bagi kamu penyuka kopi, membawa segelas cup kopi bisa menjadi pilihan istimewa. Menonton konser musik sambil ditemani secangkir kopi. Menarik, bukan?
Perlu diperhatikan, nih. Bawa sampah keluar setelah konser selesai, ya. Bukan malah nyampah.

5. Cari spot duduk yang easy
Ketika kamu nonton musik folk, carilah tempat yang yang nyaman. Tempat nyaman ini bisa di tengah, baik depan maupun belakang. Dengan berada di tengah, fokus pandanganmu bisa langsung tertuju kepada sang idola.
Pertimbangkan pula spot-spot duduk bagi kamu yang tidak terbiasa dengan asap rokok. Namanya juga konser musik folk. Pasti akan banyak diantara penonton yang merokok.

6. Peralatan dokumentasi
Ada diantara penonton yang hanya ingin menonton konser. Namun ada juga diantara mereka yang juga ingin mendokumentasikan pertunjukan langsung sang idola. Buat kamu yang memilih pilihan kedua, pastikan peralatan dokumentasimu oke.

Bagimana, sudah siap menonton konser musik folk?